Kamis, 14 Agustus 2008

ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB

Bismillahhirohmanirrohim
Marilah kita bersama-sama mengucapkan puja dan puji itu tetap kepunyaan/keagungan Allah SWT, rahmat dan salam yang dahulu disebarluaskan oleh Baginda Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya, alhamdulillah rahmat dan salam tersebut telah sampai kepada kita semua sehingga kami dapat memberikan informasi tentang Yayasan Baittul Jabbar, semoga dapat bermanfaat baik dunia dan akhirat. Wassalamu'alaikum WR.WB.

Prof.Dr.Christian Snouck Hurgronje (1857-1936)

PROF.DR.CHRISTIAAN SNOUCK HURGRONJE
Orientalis Kristen kelahiran Oosterhout ini tak percaya Tuhan. Tapi ia dijunjung sebagai pahlawan oleh Belanda atas keberhasilan memecah-belah ulama. Nama lengkapnya, Christian Snouck Hurgronje, lahir di pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. :foto Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama kaum muslimin Aceh. Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding. Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik. Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck para perkembanagan selanjutnya. Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori "Evolusi" Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka. Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya. Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, "Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam". Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah. Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda. Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak. Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama "Abdul Ghaffar." Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan "Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui ke-Islaman Anda". Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi ini tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda. Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang 'Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama. Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu. Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan 'Ulama asal Aceh di Mekah. Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab Pekojan, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim atau asisten honorair. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.
Misi utama Snouck adalah "membersihkan" Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh. Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, 'Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para 'Ulama. Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya. Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan "pembersihan" 'Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah. Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan 'Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi. Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan 'Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan "Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. " Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, 'Umar, Aminah dan Ibrahim. Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo, seorang 'Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf. Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Nöldeke, seorang orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan, Nöldeke adalah orientalis dan pakar Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 aia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran). Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergsträsser, dan Otto Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama. Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A’zhami, dalam bukunya, The History of The Qur’anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891), dimana Nöldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata Nöldeke, “Kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang ia curi dari sumber-sumber Yahudi.’’
Sebagaimana dikutip dalam bukunya, Musthafa A’zhami, The History of The Qur’anic Text, Nöldeke, telah menuduh Nabi Muhammad sebagai penulis Al-Quran dan orang jahil. Selanjutnya, dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi. Ia menulis "Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. " Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, 'Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. "

Jumat, 20 Juni 2008

Kisah Perjalanan Pemuda "Bunga Wijaya Kusuma"

Moral dan akhlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era malikul akhlak tampak mengalami kemunduran yang ditandai dengan sikap mengenyampingkan etika moral serta terlintas kecenderungan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Nilai-nilai agama dan nilai-nilai moral budaya bangsa dalam hal tertentu kelihatan semakin memudar. Hal ini seiring dengan munculnya pemahaman terhadap ajaran keagamaan yang kurang tepat sasaran, fanatisme, perilaku yang bertentangan dengan moralitas dan etika, pelanggaran HAM dan lain sebagainya.
Warga bangsa yang tidak dapat bertahan dalam polusi kehidupan akan kehilangan identitas atau jatidiri pribadi sehingga akan melahirkan sikap dan perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai moral dan akhlak. Hal ini bisa terlihat dengan bertambahnya intensitas tindak kriminal dan kekerasan, apatisme dan tidak takut menjalani hukuman, bersikap asosial dan antisosial disertai dengan perilaku yang beringas dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut diatas, terlintas dibenak seseorang Pemuda yang bernama Bunga Wijaya Kusuma, upaya untuk perbaikan sikap moral dan akhlak harus dimulai dari Tekad, Ucap dan perilaku harus semaksud dan setujuan dalam sendi hidup dan kehidupan.
Pada tahun 1980 - 1990 perjalanan dimulai mencari ilmu pengetahuan tentang iman dan islam akhirnya beliau belajar di pesantren Ar-Rahman yang awal mula ilmu pengetahuan iman dan islam disiarkan oleh Mama Sepuh H.Aming Amilin Abdul Jabbar bin H.Sarbin, lalu disebarluaskan oleh Mama Dahyan Eyen Wijaya bin H.Bahrum, KH. Isak Wijaya putera dari Mama Sepuh, Anjengan Abdul Jalil, Ustad Muchtar Rosidin dan Kholidin, dengan beliau-beliau inilah Bunga Wijaya Kusuma belajar, menggali dan mengkaji ilmu pengetahuan tentang Iman dan Islam.
Setelah mendapatkan ilmu pengetahuan tentang iman islam dari Mama Dahyan Eyen Wijaya bin H.Bahrum, KH. Isak Wijaya putera dari Mama Sepuh, Anjengan Abdul Jalil, Ustad Muchtar Rosidin dan Kholidin, pada tahun 1990 untuk mengimplementasikan Iman dan Islam tersebut, Bunga Wijaya Kusuma mengadakan perjalanan ke wilayah dimana beliau dilahirkan yaitu Kota Cirebon dengan tekad dan tujuan untuk mengubah moral dan akhlak manusia dimulai dari para pemuda-pemudi yang mempunyai pribadi berlandaskan hawa nafsu, dengan tekad yang kuat akhirnya Bunga Wijaya Kusuma mendapatkan pemuda-pemuda yang ingin benar-benar mengubah jalan kehidupan mereka dengan hidup penuh iman islam didalam dada.
Pada tahun 1994, Bunga Wijaya Kusuma bersama putera-putera-nya mendirikan Mushola Ar-Rahman diwilayah Kelurahan Watu Belah Blok Karangduwu, Kabupaten Cirebon.
Pada tahun 1996, mendirikan Mushola Nur-Subhi diwilayah Desa Kertasari, Cirebon.
Pada tahun 1998, mendirikan Mushola Al-Ikhlas Kel.Watu Belah Blok Ciasem, Cirebon.
Pada tahun 2003, mendirikan Majelis Taqlim Baittul Jabbar diwilayah Bekasi.
Pada tahun 2004, mendirikan Yayasan Baittul Jabbar, Pondok Rehabilitasi Lahir Bathin Baittul Jabbar, Kelurahan Pasalakan, Kabupaten Cirebon.
Pada tahun 2005 membangun Masjid Al-Huda Kel.Pasalakan Blok Karangmulya, dan Musholah Blok Pasalakan serta masjid blok Kebandangan Kel.Kali Wadas wilayah Cirebon.
Sampai dengan sekarang Ayah Bunga Wijaya Kusuma masih menjalankan tekadnya. Mudah-mudah perjalanan untuk menuju tafsirulkamal masih standar dengan iman islam yang sejati dan menjadi pemimpin suri tauladan bagi putera-puteri baittul jabbar sampai akhir hayat dikandung badan.
Demikian sekilas Perjalanan "AYAH" BUNGA WIJAYA KUSUMA untuk mengubah moral dan akhlak Manusia berdasarkan Iman dan Islam di dada, kami sebagai Putera-Puteri Baittul Jabbar siap untuk mendukung dengan iman islam di dada.

Kisah Perjalanan Masa Silam Putera-Putera Baittul Jabbar

Video Musyawarah Pembangunan Baittul Jabbar

Sabtu, 14 Juni 2008

KEGIATAN TAHUNAN

Kepada Seluruh Putera dan Puteri Pondok Rehabilitasi Lahir dan Bathin Baittul Jabbar kegiatan isra dan mi'rad akan dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2008.